My Rubrik

Menjadi Distributor Kebaikan

Yang baik itu berasal dari yang baik-baik. Tak percaya, mari kita simak cerita berikut ini!

Ada seorang petani jeruk yang sangat dermawan. Buah jeruk yang ditanamnya itu memiliki kualitas nomor satu. Jeruknya tidak ada yang bisa mengalahkan, baik jumlah saat berbuah maupun rasanya yang manis.
Buah jeruk yang terkenal itu pun memancing banyak petani jeruk untuk datang dan meminta bibit. Maka dengan senang hati, petani jeruk itu memberikan bibit unggulan pada banyak petani. Rupanya, tidak cukup sampai di sana. Petani-petani yang sudah mendapatkan bibit itu rupanya telah memberitahukan hal itu kepada kawan-kawannya. Tidak menunggu terlampau lama, berdatanganlah para petani dari berbagai kota, ingin meminta bibit jeruk nomor satu. Petani pemilik bibit pun memberinya dengan rela.
Apa yang dilakukan petani itu tidak luput dari perhatian anaknya. Dengan sepenuh rasa heran, anak petani itu mendatangi ayanya dan berkata, “Apakah tidak salah yang sudah ayah lakukan?”
“Apa maksudmu, anakku?”
“Mengapa ayah memberikan bibit jeruk unggulan itu? Bukankah kalau semua orang menanam jeruk yang sama, maka jeruk yang ayah tanam akan sama kualitasnya dengan jeruk mereka? Tidak akan ada lagi jeruk yang kualitasnya nomor satu kalau begitu.”
Petani itu tersenyum. Lalu memeluk bahunya dan berkata, “Ada hal penting yang mesti kamu ketahui dalam hidup ini. Bahwa apa yang kita lakukan akan berpengaruh buat orang lain. Begitu pula sebaliknya, yang dilakukan orang lain akan memiliki pengaruh buat kita.”
“Aku belum paham ayah.”
“Begini nak, maksudmu baik, kamu ingin agar mutu jeruk itu tetap menjadi milik kita, bukan?”
Sang anak mengangguk. Matanya mengerling, menunggu sang ayah melanjutkan ucapan.
“Engkau perlu tahu, bahwa angin akan menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga jeruk dan membawanya ke mana saja. Angin tidak pernah memilih tempat ke mana ia hendak berhembus. Waktu ia berhembus, ia membawa serbuk sari bunga jeruk kita, juga serbuk sari jeruk yang lain. Lalu serbuk-serbuk sari itu akan….”
“Aku paham ayah. Serbuk-serbuk sari itu akan melakukan penyerbukan silang, dan cepat atau lambat, jeruk-jeruk kita akan terpengaruhi,” sang anak menyela sebelum ayahnya melanjutkan ucapan.
Sambil tersenyum, petani itu berkata, ”Ya, jadi supaya kita dapat mempertahankan jeruk bermutu tinggi, jeruk tetangga-tetangga kita juga harus bermutu tinggi.”*)

Tidak bisa kita sangkal, bahwa kita ingin agar keunggulan dan kehebatan menjadi milik kita seorang. Jarang di antara kita yang mau berbagi kehebatan itu dengan sesama. Oleh karena kita ingin dianggap paling hebatlah yang—saya rasa—menyebabkan kita tidak mau berbagi. Padahal sejatinya, kebaikan, kehebatan, haruslah didistribusikan. Bukankah kebaikan, ilmu, dan semacamnya akan bertambah manakala kita bagikan?

Kita diciptakan Allah sebenarnya mengemban satu amanah besar. Amanah itu adalah amanah mendistribusikan kebaikan. Bahkan seluruh makhluk di dunia ini memiliki tugas yang sama, yakni mendistribusikan kebaikan. Dan kita adalah terminal terakhir bagi pendistribusian kebaikan itu.
Mari kita perhatikan nasi yang kita makan. Allah telah menitipkan kebaikan pada nasi. Nasi adalah makelar dan distribusi kebaikan. Jika kita runut, akan seperti ini kronologinya. Allah meniupkan kebaikan pada matahari. Matahari yang membawa pesan kebaikan itu, lalu mendistribusikan kebaikan pada bumi dan segenap isinya. Sinar matahari yang memiliki potensi kebaikan itu ditangkap oleh padi. Padi lalu menggunakan potensi kebaikan yang didistribusikan matahari untuk proses pertumbuhannya.
Dengan potensi kebaikan yang diserap dari matahari, padi tumbuh hingga tiba masa panen. Setalah sampai pada waktunya, padi akan dipanen. Padi yang mengandung potensi kebaikan warisan matahari akan diolah menjadi beras. Pada beras, potensi kebaikan itu terwarisi. Lalu beras dimasak menjadi nasi dan kita makan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dari sini, siapakah selanjutnya yang menyimpan potensi kebaikan yang mestinya didistribusikan? Ya, manusialah. Kita memiliki kewajiban atas itu. Kita memiliki tugas menyampaikan kebaikan kepada sekitar hingga kebaikan it uterus berputar dan terwariskan.
Inilah tugas kita hidup di dunia. Kita adalah partner semesta. Kita adalah bagian dari mata rantai kebaikan sejak Allah mewariskan potensi kebaikan pada matahari. Jangan sampai kita menjadi penghianat bagi nasi, beras, tanaman padi, matahari, dan Allah. Selamat mendistribusikan kebaikan!
*) cerita dipetik dari buku “Satu Tiket ke Surga” (Sabrina Bakar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

my almanak

December 2016
M T W T F S S
« Aug    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Flickr Photos

More Photos
ashpaud

The greatest WordPress.com site in all the land!

Enni's Website

Kumpulan Cerpen,Pengetahuan, dan Fakta Unik

aku anak bsi

mari belajar pemrograman || Kuliah BSI aja

101 Books

Reading my way through Time Magazine's 100 Greatest Novels since 1923 (plus Ulysses)

Blogging for a Good Book

A suggestion a day from the Williamsburg Regional Library

WordPress.tv

Engage Yourself with WordPress.tv

%d bloggers like this: